Sabtu, 05 Oktober 2013

ABTV



ABTV merupakan program acara untuk meninformasikan kegiatan Ambyar Binangun beserta para divisi lainnya. namun program ini akan di launcingkan pada tahun 2014 yang akan datang. semoga kehadiran ABTV bisa memberi informasi tentang seni dan kultur budaya yang ada di negri kita yaitu Indonesia. 

Minggu, 15 September 2013

KUDA LUMPING

Dikenal juga sebagai Jaran KepangJaran Dor atau Kuda Lumping di daerah lain,Jathilan adalah sebuah seni pertunjukan yang berkembang luas di berbagai penjuruYogyakarta. Dengan anyaman bambu yang dibuat menyerupai kuda, Jathilandipertunjukkan umumnya pada siang dan sore hari oleh sekelompok seniman yang terdiri dari penari dan penggamel (pemain gamelan).
Dahulu, Jathilan merupakan sebuah tarian ritual untuk memeanggil roh kuda dan meminta keamanan desa serta keberhasilan panen. Menurut perannya dalam masyarakat Jawa, kuda melambangkan kekuatan, kepatuhan, dan sikap pelayanan dari kelas pekerja. Hal inilah yang menginspirasi seluruh pertunjukanJathilan yang menempatkan penari dengan kuda-kudaan sebagai pusat perhatian.
jatilan, jathilan
Penari Jathilan
Pada awal perkembangannya, satu kelompok penari Jathilan terdiri dari dua peran, yaitu penari kuda dan pria dengan cemeti. Meski begitu, seni Jathilan yang dimainkan dalam berbagai pertunjukan resmi saat ini sudah mengadopsi beberapa perubahan mendasar pada kostum, jumlah penari, maupun detil gerakannya.
Jalan cerita utama dalam seni Jathilanmerefleksikan berbagai problematika yang timbul dalam hubungan antara masyarakat kelas atas dan kaum pekerja. Kelas pekerja yang diwakili para penari kuda digambarkan tanpa aturan, tak henti-henti bergerak; pacak golu(Menggerakkan kepala ke kiri dan kanan), siring (bergeser kesamping dengan setengah berlari), njondil (melompat), berguling, bahkan sampai kerasukan.
jatilan, jathilan
Penari Jathilan
Di sekitarnya, pria dengan cemeti selalu mengawasi segala tindakan para kuda. Mereka digambarkan sebagai tokoh yang lebih sedikit jumlahnya, tidak urakan, dan memiliki otoritas. Kesan arogan dan datar tanpa basa basi dimunculkan oleh dominasi warna merah menyala dan hitam pada riasan wajah dan pakaiannya. Tokoh ini bergerak memutar mengelilingi penari kuda di tengah arena yang “keasyikan” mengikuti musik. Sesekali melecutkan cemeti untuk memperingatkan penari kuda jika mereka bertindak “kebablasan”.
Sebagai cerminan bahwa kesenian ini berasal dan berkembang di kalangan bawah, kesan minimal juga terpancar dari kelompok musik pengiringnya. Jika diperhatikan, bunyi-bunyian yang dihasilkan terasa datar dan monoton. Namun itu bukan tanpa maksud. Selain ingin menghadirkan kesan magis, hal itu melambangkan keseharian kaum pekerja kelas bawah yang dipenuhi rutinitas.
jatilan, jathilan
Penari Jathilan
Kelompok penggamel hanya terdiri dari beberapa orang yang memainkan satu set gamelan sederhana yang terdiri dari masing-masing satu saron, kendang, gong, dan kempul. Secara umum, Jathilan di Yogyakartatidak mengalami perubahan mendasar dari segi musik pengiring. Kesan irama bertempo statis dengan sedikit variasi “lonjakan” di sana sini tetap dipertahankan.
Saat irama pengiring merangkak naik, penari kuda terlihat semakin liar dan tidak terkontrol. Pada klimaks pertunjukan ini, tak jarang mereka terlihat kerasukan. Inilah fase yang ditunggu-tunggu para penonton. Saat inilah para penari kuda mempertunjukkan atraksi ala Debus Banten. Mereka seperti diluar kesadaran saat makan beling, mengupas kelapa dengan gigi mereka, memecahkan tempurungnya dengan dahi, lalu meminum airnya. Tak jarang, mereka juga makan bunga-bunga persembahan dan minum air mentah dari ember seperti layaknya seekor kuda.
Di akhir pertunjukan, alunan gamelan kembali ke tempo semula seiring sang pria bercemeti memainkan fungsinya sebagai penyembuh. Dia mendekap orang yang kesurupan, membaca mantra-mantra, dan menyemburnya dengan air. Seketika si penari kesurupan mengejang, lalu kembali sadar seolah tidak tahu kegilaan apa yang dia lakukan sebelumnya.

Perupa Jogja, Yaksa Agus





Reporter : Jogjanews.com - Perupa Jogja, Yaksa Agus sejak Sabtu (17/8) hingga Sabtu (31/8) memamerkan belasan karya seni lukisnya dalam Pameran Tunggal “Maaf:Sorry” di ruang pameran Tembi Rumah Budaya. Selain memamerkan karya lukis tunggal, Yaksa Agus juga memamerkan karya-karya lukis berseri. Yaksa Agus mengatakan Pameran Tunggal “MAAF:Sorry” menjadi upaya dirinya menandai atau merespon suasana lebaran dimana banyak orang untuk saling mengucapkan maaf. Tapi sebenarnya Pada Dasarnya tidaklah melulu karya-karya mendadak membuuat ilustrasi dari diskripsi kata Maaf. “Akan tetapi serangakaian karya-karya dapat di ikat dalam tajuk MAAF dari sudut pandang berbeda,” kata Yaksa Agus kepada Jogjanews.com, Selasa (27/8). Menurut Yaksa Agus, makna Kata ‘maaf’ bagi dirinya adalah Kembali melongok masa yang telah lalu, tentunya banyak sekali kekurangan, kesalahan. Dari hal itulah Yaksa berupaya kembali, dalam arti memaafkan dirinya sendiri. Salah satui lukisan berseri yang dipamerkan Yaksa Agus adalah tiga karya berjudul Kampung Halaman 1, 2 dan 3 dengan ikon pohon beringin yang disimbolkan sebagai kata ‘ingin’ yang berarti dirinya ingin kembali dalam suasana yang teduh dan fleksibel. “Seperti pohon beringin, bisa hidup dimana saja, dan justru menghidupkan mata air atau sumur-sumur menjadi lebih banyak airnya,” terang Yaksa Agus yang mempersiapkan pameran selama enam bulan meski diakuinya, banyak halangan terjadi selama proses persiapan pameran ini. Bagi Yaksa Agus, pameran tunggal “Maaf:Sorry” memiliki makna yang sangat dalam tidak sekedar mengaitkannya dengan lebaran yang menjadi momentum untuk saling bermaaf-maafan.Tapi pameran ini menjadi ungkapan kata ‘maaf’ Yaksa Agus kepada publik seni rupa. “Di mana saya sering berpraktek selain berkarya seni, juga jadi MC di pameran-pameran walau sering gratisan tapi sering dituduh numpang eksis di acara orang,” kata Yaksa Agus. Bagi Yaksa Agus, pameran tunggal “Maaf:Sorry” ini juga menjadi ajang pamit bagi dirinya untuk tidak lagi terlibat dalam kepanitiaan,organisasi hingga kalau bisa dalam praktek penulisan atau kuratorial pameran. “Di mana saya sering berpraktek selain berkarya seni, juga jadi MC di pameran-pameran walau sering gratisan tapi sering dituduh numpang eksis di acara orang,” kata Yaksa Agus. “Dari situlah saya, melalui Pameran ini mohon maaf, untuk pamit tidak terlibat dalam kepanitiaan, organisasi, hingga kalau bisa tidak menulis atau mengkurasi,” tambah Yaksa Agus yang mengakui sampai saat ini, ia sudah terlanjur memiliki event pameran seni rupa yang harus ia tulis atau kurasi higga pertengahan 2014. - See more at: http://jogjanews.com/pameran-tunggal-maafsorry-yaksa-agus-pameran-pamitan-yaksa-agus#sthash.GvVnjeo9.dpuf

MUMI KATARSIS Mengguncang Bugisan


MUMI KATARSIS Mengguncang Bugisan

Bebunyian gaduh dan berirama dari alat-alat musik perkusi terdengar riuh di Desa Tegalkenongo, Bugisan Selatan. Pematang sawah dan daerah sekitar rumah ketjilbergerak disulap menjadi sebuah tempat yang berbeda malam itu. Sabtu malam, 24 Maret 2012, ketjilbergerak menggelar acara ‘Pesta Rakyat ketjilbergerak’ yang merupakan acara puncak dalam rangkaian acara ‘Membatalkan Keperempuanan’.


Acara ini diramaikan oleh kedatangan masyarakat dari berbagai kalangan seperti seniman, mahasiswa, pelajar, tak ketinggalan warga sekitar. Puncak acara ini berbeda dari acara-acara sebelumnya. Tema ‘Pasar Rakyat’ yang diusung benar-benar merupakan acara yang ‘rakyat’. Melibatkan warga sekitar rumah ketjilbergerak , acara ini meriah dengan berbagai stand makanan seperti angkringan, jajanan rumahan, dan tak ketinggalan emping yang menjadi andalan dari desa ini.


Tak ketinggalan dengan para pengisi acara. Salah satu penampilnya tentu saja dari HMJ Kriya ISI Yogyakarta. Kesempatan yang diberikan oleh ketjilbergerak ini tentu saja membuat kami untuk bersemangat memberikan performance yang maksimal.


‘Mumi Katarsis: Batal Jadi Perempuan’ adalah tema dari penampilan HMJ Kriya ISI kali ini. Dengan konsep ala Mesir Cleopatra, para laki-laki diubah menjadi perempuan, begitu sebaliknya. Mulai dari jam dua siang, para penampil sudah bersiap di kampus untuk make up. Dandanan perempuan cantik yang dipoleskan pada wajah-wajah maskulin anak-anak laki-laki berpadu dengan para performers perempuan yang berubah menjadi gahar karena make up laki-laki.


Sampai di venue, kami segera bersiap. Di tempat transit yang terletak di belakang rumah ketjilbergerak, performers dibantu oleh kru memakai kostum buatan kami sendiri, batik ciprat penuh warna. Pukul 19.30 WIB, setelah mc meneriakkan nama HMJ Kriya ISI , performes yang sudah tak sabar untuk tampil segera memasuki pematang sawah yang diubah menjadi panggung. Begitu terdengar suara tabuhan rebana dan jimbe ,tarian pun dimulai. Efek lighting yang denga apiknya menyorot performance HMJ Kriya ISI serta sorak-sorai dari para penonton seketika membuat penampilan semakin memanas. Tepuk tangan yang riuh, suara tawa, dan teriakan dari penonton menutup penampilan dengan sempurna. Kami sukses menghibur para penonton malam itu.

Terimakasih kepada ketjilbergerak atas kesempatan yang diberikan kepada kami. Dengan tampilnya kami di acara Pesta Rakyat ini, kami berharap lebih banyal lagi orang yang mengenal dunia kriya. Tak lupa juga kepada mahasiswi pertunjukan ( tari dan teater). Serta kepada semua orang yang terlibat dalam proses acara ini sehingga dapat sukses meramaikan acara kejilbergerak. Terima kasih terima kasih terima kasih.
Semangat !